
Kurniawan, ibn Syahril, ibn Sulthon Kholifah.
Apa itu gelombang? Apa yang dimaksud dengan gelombang? Banyak interpretasi atas kata gelombang dari berbagai sudut bidang keilmuan. Kebanyakan orang akan membayangkan laut jika kata ini disebutkan, tetapi itu adalah ombak, yaitu gelombang air laut. Kalangan orang awam akan membayangkan sesuatu yang naik turun. Kalangan dokter akan membayangkannya sesuatu seperti denyut jantung. Kalangan seniman akan membayangkan bentuk riak-arus. Kalangan orang-orang dibidang sosial akan membayangkan sebagai suatu gerakan sekelompok orang yang masif. Dan masih banyak interpretasi lainnya, bahkan yang salah interperetasi lebih banyak lagi.
Gelombang (wave) adalah vektor gerakan atau dorongan yang berubah-ubah terhadap poros equilibrium, dalam jumlah satu atau lebih bahkan konsisten continues (terus berlanjut). Bentuk vektornya bisa melingkar, atau ellipse, atau persegi (tiga, empat, lima, dst), mengikuti vektor alur equilibrium. Bentuk gelombang biasanya relatif bangun datar (2 dimensi), yaitu hanya vektor bersumbu X dan Y. Tetapi ada juga gelombang berdimansi 3 yang memiliki vektor bersumbu X, Y, dan Z. Bahkan gelombang dengan dimensi yang lebih dari 3 pun ada, dan bentuk jenis ini akan sangat sulit untuk digambarkan.
Apa saja contoh-contoh gelombang? Yang sederhana dan mudah dilihat adalah gelombang naik-turunnya air. Lalu gelombang denyut jantung, gelombang suara, gelombang cahaya, gelombang sinyal, gelombang suhu (temperatur), gelombang energi (tekanan/tarikan), gelombang medan magnetik, dan amat banyak lagi. Ada gelombang-gelombang yang merambat melalui materi, seperti suara dan temperatur. Ada juga gelombang-gelombang yang merambat tanpa perlu materi, seperti cahaya dan magnetik. Suara membutuhkan materi agar gelombangnya bisa merambat, dan di ruang hampa maka gelombang ini akan putus. Tetapi cahaya tidak memerlukan materi untuk perambatannya, walau di ruang hampa sekalipun gelombang cahaya akan terus merambat.
Satu contoh lagi adalah gelombang-gelombang kinerja otak. Otak manusia menghasilkan banyak gelombang ketika bekerja, dan jika divisualisasikan akan tampak seperti medan cahaya di kepala manusia, hanya saja medan cahaya ini tak dapat dilihat oleh mata manusia. Makin tinggi intensitas kerja otak seorang manusia, makin banyak ragam cahaya yang dipancarkannya. Dan mungkin dengan itulah makhluq-makhluq seperti jin dan malaikat dapat membedakan manusia yang amat mendalam ilmunya dengan orang-orang yang bodoh. Frekwensi kerja otak manusia tiap orangnya berbeda-beda, dan cahaya yang dihasilkannya pun tak sama.
Jika ada cahaya-cahaya yang tidak dapat dilihat mata manusia, maka ada juga suara-suara yang tidak dapat didengar telinga manusia. Selama di alam dunya ini الله membatasi range frekwensi cahaya dan range frekwensi suara yang dapat diterima oleh manusia. Tetapi jika telah lepas dari alam dunya maka range itu akan menjadi lebih lebar. Maka akan terlihatlah cahaya-cahaya lainnya dan terdengarlah suara-suara lainnya, yang sebelumnya belum pernah diterima oleh manusia.
Ketika dulu kita sekolah atau madrosah atau juga kuliah, setiap pelajaran yang kita dapat selalu dipecah berdasar berbagai kategori. Dulu aku pun bingung, mengapa banyak sekali yang harus dipelajari, dari berbagai macam pengelompokan kategori pula. Tetapi semenjak mempelajari pemprograman di umur 16 tahun, berbagai macam pelajaran yang dipecah-pecah itu mulai menyatu dalam kepalaku. Diawali dengan yang paling sering membuat jengkel, yaitu Matematika. Semenjak aku ngeuh bahwa rumus-rumus persamaan dapat mengoptimasi algoritma program, justru aku jadi berbalik mencintai Matematika. Di saat itu aku sedang menerapkan algoritma Bresenham dan optimasinya, hanya cukup dengan persamaan ABC (C=B+A) atau ABCD (D+C=B+A). Dan dulu aku pun selalu bingung, apa gunanya mempelajari sinus, cosinus, tangent, dan semacamnya. Tetapi semenjak mulai belajar menggambar lingkaran perpixelnya, barulah aku paham bahwa koordinat X-nya adalah cosinus, dan koordinat Y-nya adalah sinus.
Lalu ke pelajaran yang aku cintai, Fisika. Sempat bertanya-tanya juga untuk apa juga mempelajari gelombang, percepatan, kelembaman, momentum, gravitasi, dan sebagainya. Lalu seorang senior dari Monash University mengajarkanku berbagai macam teknik pemprograman game. Daaann... Matematika, Fisika, sampai ke Ilmu Sosial, masuk terserap ke dalamnya, bahkan BIOLOGI, ... ajiiyb. Pengumpulan data untuk suatu statistik, teknik penyebarannya, serta pendistribusiannya, hingga ke teknik cloning data yang tak bisa sembarangan.
Kemudian, Bahasa, pelajaran yang sering diremehkan orang. Semenjak aku berkenalan dengan "Mind-Mapping", alur suatu rencana yang berasal dari niat di dalam qolbu, dipikirkan oleh aqal, kemudian ditumpahkan menjadi flow-chart, dilanjut kepada pseudo-code, hingga tumpah-ruah menjadi kode-kode pemprograman yang bahkan dengan berbagai macam bahasa pemprograman, maka teknik berbahasa menjadi yang amat penting dalam hidupku. Walau hanya sekedar imbuhan ke-an, bisa menjadi perubahan drastis jika ditumpahkan menjadi kode pemprograman. Karena bahasa memiliki vektor di dalam "Mind-Mapping", yaaa... bahasa memiliki vektor, maka peggunaan kata harus sangat diperhatikan. Sebagai contoh, aku coba menjelaskan mengenai "gelombang":
Apa yang dimaksud dengan gelombang? Orang awam akan membayangkannya sebagai sesuatu yang naik-turun. Kalangan dokter akan membayangkannya sebagai denyut jantung. Kalangan seniman akan membayangkannya sebagai riak-arus. Tetapi seorang programmer yang menguasai algoritma dengan mantap, akan membayangkannya sebagai lingkaran, atau ellipse, atau persegi (tiga, empat, lima, dst), yang tidak terputus menerus dalam alur. Baik itu gelombang yang cekung, atau cembung, atau yang berbentuk bagaimanapun, tiap gelombang selalu menyentuh garis tengahnya (diameter) kembali. Jika tidak kembali, maka tentunya itu bukanlah gelombang.
Satu paragraf di atas mencoba memetakan pikiran (Mind-Mapping) dari berbagai sudut pandang (perspektif), mengenai kata "gelombang". Penjelasan yang absurd tentu tidak akan mengena pada maksud yang dituju. Itulah kenapa tiap bidang keilmuan memiliki kamus bahasanya sendiri. Tetapi setiap kata dari berbagai macam bahasa, bahkan "bahasa monyet" sekalipun, jika ditumpahkan dalam bentuk kode pemprograman, maka maksud yang dituju akan mengerucut kepada titik/point yang sama.
Ini bukanlah mengenai penggunaan bahasa baku atau bahasa sleng, juga bukan mengenai penggunaan bahasa asing, tetapi ini mengenai pemprograman. Tidak ada kebohongan dalam pemprograman, berbagai macam bidang keilmuan jika ditumpahkan ke dalamnya, ataupun berbagai macam bahasa jika ditumpahkan ke dalamnya, maka semua akan menjadi alur yang jelas. Jika tidak, berarti si programmernya SINTING.
Istirahatnya seorang mu'min di Jannah, sedangkan alam dunya ini adalah medan tempat berjuang, dan mu'min sejati akan selalu merasakannya bagai di dalam penjara. Menyusun mushaf Qur'an dan menerjemahkannya dengan arti dan tafsiran sebenarnya, lalu menulis dan menerjemahkan kitab, lalu memprogram aplikasi, lalu menyunting animasi presentasi dan video, ... seakan tak ada lagi kata "liburan" dalam kamus perjalanan hidupku. Tak mengapa, hanya beberapa tahun saja, dan walaupun hanya segelintir orang yang bisa menghargai.
Dan seorang pejuang selama di alam dunya ini tetap butuh makan, begitupun tanggung-jawab lainnya yang butuh pemenuhan. Setidaknya, untuk bisa menegakkan tulang-punggung, untuk bisa tetap sholat, untuk bisa tetap mengayuh sepeda. Sosok "Superman" hanya hanyalah dongeng dusta, sedang realita bahwa: Rosululloh pun masih berjual-beli di pasar. Orang mungkin akan berfikir bahwa 'ilmu dengan kekayaan akan berbanding lurus. No, not at all, 'ilmu akan membuat pemiliknya makin merunduk, dan makin menyadari akan kepalsuan dunyawi. Menghabiskan umur untuk mengumpul kekayaan adalah hal bodoh, begitulah pendapatku. Tetapi orang cerdas yang sebenarnya menghabiskan umur untuk merintis jalan ke Jannah. Segala sesuatunya tak akan pernah sia-sia.
قال الله تعالى
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
And say, “Do [as you will], for الله will see your deeds, and [also] His Messenger and the believers. And you will be returned to [الله] the Knower of the unseen and the witnessed, and He will inform you of what you used to do.”
Dan katakanlah, “Ber'amallah [sekehendakmu], maka الله akan melihat pekerjaanmu, dan [juga] Rosul-Nya dan orang-orang mu'min. Dan kamu akan dikembalikan kepada [الله] Yang Mengetahui yang ghoib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”
[القرآن 9/التوبة:105]
Pada 3 hari lalu aku menonton video bertema "The Convergence-Divergence Theory", dan sungguh menarik. Pencetus teori ini mendapat penghargaan Nobel 2022, bahkan disandingkan dengan "The Relativity Theory", waowww... Amazing. Pada teori relativitas mengungkap bahwa alam semesta tidak lurus/linear, tetapi cengkung dan cenderung dapat dibengkokkan. Dan pada teori konvergensi-divergensi, lebih ajib lagi, terungkap bahwa alam semesta ini "tidak nyata". Dan tembakan sinar photon yang hanya bergerak merambat secara vertikal atau horizontal dapat membuktikannya, bahwa alam semesta ini "tidak nyata".
Bagi orang-orang yang berada di lingkup sains, tidaklah asing dengan sinar photon. Apalagi yang lebih memfokuskan pergelutannya di lingkup elektronika, bahkan ke digital, khususnya lagi ke pemprograman, terutama AI. Bukan hanya sinar photon yang bisa menjadi bukti, relativitas dan konvergensi-divergensi dapat disimulasikan melalui algoritma. Bahkan tiap parameter kehidupan ini pun membuktikan bahwa alam semesta ini sebuah simulasi. Mungkin suatu saat jika masih ada umur akan aku coba buat, i think it's prety fun. Tetapi... 1/3 rambutku telah memutih, dan telah lebih dari 10 helai jenggotku pun juga. Mungkin waktu untuk pulang sebentar lagi, aku harus prioritaskan yang lebih penting. Too much task to do.
Bagi orang-orang awam, tentu akan alergi dengan istilah-istilah sains yang "bikin mual". Efek overload membuat mereka memuntahkan kembali sesuatu yang tak bisa dicerna. Bukan non-sense, but almost everybody. Tapi sungguh الله telah memisalkannya dengan permisalan yang lebih mudah, relatifnya waktu antara alam dunya dengan alam akhirot, konsep keabadian, konsep "akhirotu khoyrotu minal-uwla", konsep kecepatan malaikat yang mendekati kecepatan cahaya, bahkan hingga chroma warna di bawah merah dan di atas ungu, juga lebih dari itu seperti dimensi yang lebih dari 4 (panjang, lebar, tinggi, alur/waktu).
Pasti akan selalu ada orang yang minta diajarkan akan hal ini. Bukan aku yang tak mau, tapi terlalu langka orang-orang yang mampu memahaminya. Such a waste to explain of things you can't understand. Bagaimana aku menjelaskannya, bahkan beda antara molekul dengan atom dengan neutron dengan neutrino pun banyak yang tak paham, padahal skalanya sampai jutaan kali (bagi yang paham). Biar sajalah, cukup الله yang tahu bahwa aku tetap berjalan di jalanNya, dengan pondasi tawhid, dengan pilar sholat, berhias akhlaqul-karimah, beratap jihad, dan dipagari dengan syari'at. Cukup demikian, الله تعالى أعلم.
Manusia adalah makhluq abadi, yang sekarang ini sedang difilter (uji-coba) di alam dunya, untuk menempati tempatnya di alam keabadian. Pastikan pantasnya dirimu, atau hanya akan terbakar sebagai makhluq reject.
Sudah sekitar 25 tahun, atau lebih, sejak pertama kali aku mulai belajar memprogram. Aku mengawalinya dengan BASICA (Beginner All-Purpose Syntax .... sudah lupa kepanjangannya), dengan belajar menulis string, input, sampai menggambar pixel. Lalu aku melompat ke Turbo Pascal 7.0, dan mulai mengendalikan device. Kemudian... lompat ke Asm, ... ya Assembler/Assembly, dan mulai berbicara dengan bahasa Microprocessor/Microcontroller.
Kemudian di tahun '99, aku mempelajari HTML 4.0, CSS, dan Javascript/VBScript. Lalu setelah lulus sekolah dan mulai mengenal Internet, maka semua mulai "Out of Control". Mulai dari membuat script IRC hingga Carding. Semua itu sebelum tahun 2000.
Waktu cepat berlalu..., dan kini di saat aku menulis tulisan ini, aku sudah menggabungkan Back Propagation Neural Network dengan Genetic Algorithm. Dua pintu Machine Learning menuju dunia AI, yang 6 tahun sebelumnya sudah mulai aku raba. Entah apalagi yang akan aku hadapi dan pelajari, tetapi satu yang pasti, bahwa aku pasti menghadapi kematian. Dan aku sudah lama merasakan rasa bosan ini, seakan perbedaan spektrum partikel sudah bukan hal yang "Wahhh" bagiku. Tiga, empat, lima, atau bahkan sepuluh dimensi materi, sudah seperti tumpukan Array, bahkan hal paradox pun mengalir bagai sesuatu yang linear. Mungkin inilah puncak kerinduaku kepada Robbku, atau aku bahkan akan merasakan yang lebih dahsyat dari ini?
... The Next, only الله know, while me... just such a simple old man, like this simple blog that i rewrite it. Soon i will be 42th, and leave this Dunya.